Pendekatan Prilaku dalam Arsitektur


Selamat siang sobat-sobat bloger? kali ini saya akan memposting tentang pendekatan perilaku dalam arsitektur. Pendekatan ini sangat dibutuhkan, karena menyangkut dengan apa yang kita rancang nantinya. Berikut penjelasannya. 
Arsitek adalah individu yang memiliki emosi, sikap, serta kognisi yang berbeda dengan manusia atau arsitek yang lainnya. Pada dasarnya, kerangka pendekatan studi perilaku menekankan bahwa latar belakang manusia seperti pandangan hidup, kepercayaan yang dianut, nilai, dan norma-norma yang dipegang akan menentukan perilaku seorang arsitek yang mencerminkan dalam karya mereka. Pendekatan perilaku menekankan pada hubungan dialektik antara ruang dengan manusia dan masyarakat yang memanfaatkan atau yang menghuni ruang tersebut. pendekatan tersebut menekankan pada perlunya memahami perilaku manusia serta masyarakat yang menghuni di daerah-daerah tertentu dalam memanfaatkan ruang. Dalam arsitektur ada 4 yang perlu diperhatikan dalam proses pendekatannya yaitu sebagai berikut:
Interaksi antara Manusia dan Lingkungan
Lingkungan merupkan tempat manusia melakukan kegiatan pada dasarnya bukan sekedar lingkungan fisik semata tetapi juga terdiri dari aspek non-fisik seperti psikologi untuk kasus tersebut.

Setting Perilaku
Setting perilaku yang berada pada berbagai ruang kota dapat dibagi menjadi beberapa sub setting. setiap sub setting dipengaruhi oleh kecenderungan dan upaya pelaku dalam merespon lingkungan sekitarnya untuk melakukan aktifitas. Pelaku cenderung memilih tempat yang nyaman untuk beraktifitas. tempat adanya hubungan timbal balik antara individu pelaku dengan sistem perilaku, yaitu adanya kontribusi individu pelaku dalam mewujudkan setting perilakunya.

Perilaku Spasial
Perilaku spasial adalah tindakan atau langkah manusia dalam melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan lingkungan lingkungan yang ada (Lang, 1987). Perilaku seseorang dipengaruhi oleh persepsi terhadap lingkungannya, yang meliputi motivasi dalam memanfaatkan lingkungan sebagai komponen dasar. Manusia memiliki rasa lelah dalam melakukan sesuatu kegiatan. jarak tempuh optimum bagi pejalan kaki yaitu 200m. semakin panjang jarak tempuh, maka pejalan kaki semakin merasa lelah dan enggan melakukannya. hal ini menunjukkan bahwa dalam merencanakan sesuatu wadah bagi aktifitas manusia, harus senantiasa mempertimbangkan perilaku spatialnya.

Hubungan Perilaku Manusia dengan Lingkungan
Hubungan yang terjadi antara manusia dan lingkungan lebih umum dikenal dengan istilah interaksi antara manusia dengan lingkungan. hal ini berada diantara sifat-sifat alami dari manusia dengan lingkungan dengan berbagai macam atributnya, baik fisik maupun non-fisik. Terjadinya interaksi antara manusia dengan lingkungan disebut dengan persepsi. sebuah persepsi akan muncul jika salah satu unsur tidak ada. pola perilaku menjadi suatu hal yang sangat penting untuk membatasi situasi dan konteks situasi, serta untuk mengatakan bahwa ada batasan kebudayaan. kesesuaian karakteristik dalam interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya sangatlah penting dalam pengembangan suatu lingkungan binaan. aspek yang sangat berpengaruh dalam interaksi tersebut adalah budaya (berkaitan dengan kebiasaan dan kecenderungan dalam melakukan suatu kegiatan).

Related

Studio Perancangan Arsitektur 4777884513861913790

Post a Comment

Follow Us

Side Ads

Text Widget

Followers

Connect Us

Visitor

Flag Counter
item